Wednesday, September 3, 2014

Penyakit: Varises vena tungkai, bukan problem kosmetik



Varises Vena Tungkai

Hal hal yang perlu diketahui tentang varises vena tungkai

Banyak orang yang beranggapan bahwa varises vena bukan suatu masalah yang serius, termasuk praktisi kesehatan seperti dokter. Mereka beranggapan bahwa varises vena adalah suatu masalah kosmetik yang mengganggu penampilan sehingga banyak penderita yang tidak dirujuk ke spesialis (bedah) vaskular akibatnya penderita datang dalam keadaan yang lebih berat dan malahan sudah menimbulkan komplikasi komplikasi yang bahkan bukan hanya menimbulkan kesakitan tetapi bahkan dapat menyebabkan suatu kematian.

varises vena

komplikasi varises venatungkai
Apa itu varises vena tungkai 
         
Varises vena tungkai adalah suatu kondisi dimana terjadi pelebaran vena  yang berbelok belok ditungkai yang terjadi akibat kelemahan dinding vena dan kelemahan dan tidak berfungsinya katup vena.

Penjelasan

Vena adalah suatu sistem pembuluh darah yang membawa darah kembali kejantung. Terdiri atas tiga tipe yaitu vena dalam, vena superfisial dan vena perforantes yang menghubungkan vena luar dan vena dalam.  Berbeda dengan arteri yang mengalir karena pompa jantung, darah vena mengalir kembali ketubuh karena kombinasi pompa otot dan bantuan katup vena.
Katup vena didesain untuk membantu darah mengalir kejantung dan menahan aliran balik darah vena kembali kebawah akibat grafitasi. Aliran balik kebawah pada vena disebut reflux vena. Katup vena dalam ini tidak berfungsi baik bisa memang karena dari lahir sudah kurang berfungsi atau memang tidak ada sama sekali, bisa karena kelemahan dinding vena yang mengakibatkan vena melebar sehingga katup vena tidak menutup sempurna. Bisa juga akibat pernah timbulnya bekuan darah yang menempel dikatup mengakibatkan kerusakan katup sehingga katup tidak bisa menutup sempurna. Kerusakan katup bisa juga diakibatkan trauma.
Katup vena yang rusak baik primer maupun sekunder tadi akan mengakibatkan hambatan aliran darah kembali kejantung. Timbul stasis aliran vena yang mengakibatkan dinding vena melebar, selanjutnya dinding yang melebar akan makin memperberat gangguan katup vena.Gangguan katup vena akan makin memperberat stasis sehingga dapat dipahami bahwa varises vena adalah suatu kondisi patologis akibat cacat pada katup yang berlangsung progresif jika tidak ditangani dengan benar.
Varises vena bisa terjadi divena luar dikenal sebagai varises vena primer, sedangkan varises vena dalam disebut varises vena sekunder.Edema didaerah pergelangan kaki menandakan sudah terjadi kerusakan pada vena dalam.

Penyebab dan faktor faktor resiko

Penyebab dari varises vena tungkai ini multifaktorial. Faktor genetik, polahidup dan faktor hormonal memegang peranan penting.
Faktor genetik diduga diturunkan karena insiden penyakit ini lebih tinggi jika ditemui anggota keluarga juga menderita kondisi yang sama. Diduga hal ini dipengaruhi oleh bentuk katup vena yang diturunkan oleh keluarga.
Pola hidup berperanan sangat besar. Penyakit ini muncul pada orang yang banyak berdiri dan banyak duduk dan kurang bergerak. Termasuk juga pada penderita gemuk yang jarang bergerak. Hal ini diakibatkan pada kondisi kaki tergantung lama tanpa gerakan mengakibatkan darah ditungkai tidak mengalir akibat tak adanya kontraksi otot. Darah yang stasis akan mengakibatkan trombosis yang akan merusak katup vena. Bisa juga melalui proses stasis yang akan mengakibatkan pelebaran dinding vena pada orang yang memang sudah ada kelemahan dinding vena. Pelebaran vena akan menyebabkan katup tidak bisa menutup sempurna.
Kehamilan menyebabkan varises melalui mekanisme stasis dan hormonal. Pada ibu hamil seiring dengan pertambahan usia kehamilan akan mengakibatkan penekanan pada vena panggul. Hal ini menyebabkan terjadinya hambatan aliran balik darah vena kejantung. Terjadi stasis darah ditungkai yang akan menyebabkan terjadinya pelebaran dinding vena dan bisa mengakibatkan kerusakan katup. Hal ini diperberat oleh karena pengaruh hormonal pada ibu hamil menyebabkan dinding venanya mudah melebar. Stasis vena juga menyebakkan mudah terjadi trombosis, sehingga sering pada ibu hamil ditemukan tromboflebitis pada vena tungkai.

Keluhan dan gejala

Kejadian ini lebih sering pada wanita dibandingkan laki laki, diduga karena peranan hormonal dan kehamilan berulang pada perempuan. Diduga terdapat sekitar 15% populasi menderita varises vena.

Keluhan penderita 

Penderita biasanya mengeluh pegal dan berat pada tungkai, gatal gatal dan perasaan terbakar pada pergelangan kaki terutama timbul saat berdiri.
Selain itu penderita biasanya mengeluhkan adanya benjolan seperti cacing pada sisi dalam tungkai  dan bisa terlihat dari luar.
Pada kondisi berat akan timbul keluhan akibat timbulnya perubahan bentuk kulit pada pergelangan kaki. Pada kondisi ringan warna pergelangan kaki berubah menjadi lebih gelap ( hiper pigmentasi), timbul dermatitis, dan dalam kondisi berat dapat timbul luka pada pergelangan kaki.Kondisi ini dikenal sebagai post thrombosis syndrome
Luka pada pergelangan kaki dikenal sebagai luka vena. Berbeda dengan luka luka lain, kondisi ini susah sembuh jika tidak ditangani dengan benar. Luka ini sering salah didiagnosis oleh dokter yang tak terbiasa menangani kasus kasus ini sehingga penderita sering terlantar dan baru mendapat pengobatan yang benar setelah lama menderita sakit. Problem lain jika sudah timbul gangguan pada kulit pergelangan kaki, kondisi ini tidak bisa sembuh sempurna seperti sediakala. Kondisi ini mengakibatkan perubahan menetap pada kulit yang mengganggu penderita.
Keluhan lain sering timbul adalah bengkak berulang pada kaki terutama timbul jika tungkai tergantung lama. Kondisi ini berbahaya karena stasis lama bisa mengakibatkan timbulnya bekuan darah ditungkai yang dapat lepas ke paru dan mengakibatkan kematian mendadak.
Keluhan keluhan burst vein, dimana vena vena kecil dikaki melebar sering berhubungan dengan
kehamilan dan bisa juga akibat aliran balik dari varises vena, tidak memerlukan pengobatan serius.

Bagaimana mendiagnosa

Pasien didiagnosa melalui keluhan dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan penunjang yang sangat membantu adalah pemeriksaan ultrasonografi. Dengan pemeriksaan ultrasonografi dapat diketahui adanya aliran balik vena, dapat dilihat ukuran vena, dapat dilihat adanya bekuan bekuan darah atau trombus. Juga dapat dilihat kondisi vena dalam.
Pemeriksaan ini menentukan rencana pengobatan selanjutnya. Strategi pengobatan ditentukan dengan mengetahui secara jelas kondisi penyakit pasien dan penyebab varisesnya. Jika ditemukan kerusakan vena dalam dari pemeriksaan fisik dan diperkuat dengan ultrasonografi maka tidak boleh dilakukan operasi pada pasien, karena operasi malahan akan memperberat kondisi pasien. Untuk kondisi ini ada pilihan pilihan pengobatan yang berbeda.
Ultrasonografi juga menentukan strategi pengobatan dalam kondisi sudah timbul luka pada pergelangan kaki, dimana pengobatan ditujukan untuk pengikatan vena penghubung yang menjadi penyebab luka penderita.

Pengobatan

Tak ada pengobatan yang menyembuhkan varises vena sepenuhnya. Pengobatan ditujukan untuk mengurangi keluhan dan membuang vena yang sudah rusak, karena jika tidak ditangani secara benar maka kerusakan vena akan berlanjut terus.
Banyak pilihan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi penyakit penderita. Setiap penderita memerlukan pengobatan yang berbeda beda. Sering pada satu penderita memerlukan lebih dari satu modalitas pengobatan. Pengobatan bervariasi mulai dari pengobatan konservatif sampai pengobatan minimal invasif dan operasi pembedahan terbuka.
Pengobatan konservatif adalah dengan mengenakan stocking kompressi, berbeda dengan stocking kosmetik, stocking kompressi didesain dengan menggunakan pressure yang terukur dari bawah sampai keatas disesuaikan dengan kondisi pasien. Stocking ini membantu menekan vena sehingga ukuran vena kembali mengecil, selain itu juga membantu memperkuat kerja otot kaki sehingga membantu mendorong darah kembali kejantung. Pengobatan konservatif lain adalah dengan perubahan perilaku dengan menghindarkan kaki tergantung lama seperti menghindari duduk lama, menghindari berdiri lama. Olah raga seperti berjalan, berenang sangat membantu penderita. Semua diatas ditujukan agar tidak terjadi stasis aliran darah vena ditungkai dan sangat membantu, tetapi tidak dapat menyembuhkan penyakit.
stocking kompressi

Pembedahan ditujukan jika sudah terjadi penonjolan vena ditungkai dan sering bersamaan dengan terjadinya bekuan darah pada vena luar yang dikenal sebagai tromboflebitis dan bahkan kadang kadang terjadi perdarahan. Pembedahan bertujuan membuang vena yang sudah rusak dan menghentikan refluks aliran vena yang akan memperberat kondisi penderita. Pembedahan yang dilakukan oleh dokter spesialis bedah vaskular dengan menggunakan peralatan khusus sehingga luka operasi biasanya tetap tersamar.
Terapi injeksi skleroterapi ditujukan untuk pelebaran vena yang masih kecil, ini bertujuan untuk membuat vena kolaps.
Pengobatan yang akhir akhir ini sedang berkembang di Indonesia dan memberikan hasil bagus adalah dengan menggunakan metode laser. Ada dua macam laser yaitu endovenous laser dan skin laser. Pada tindakan endovenous laser, luka operasi sangat kecil, melalui luka kecil dimasukkan kateter dengan serat fiber optik halus . Fiber kemudian ditarik perlahan dan dinding vena dan darah yang terkena energi laser akan mengakibatkan lumen vena menutup sehingga refluks akan terhenti dan varises akan menutup. Angka kesembuhan dengan prosedur ini tinggi dan secara kosmetik hasilnya bagus.
Pengobatan yang juga sangat bagus adalah dengan menggunakan radiofrequency ablasi. Metodenya hampir sama , dengan menggunakan energi panas, maka varises vena akan kolaps dan darah akan dialirkan kembali melalui lumen yang sehat.
Skin laser di RSCM
endovenous laser di salah satu klinik jakarta



Komplikasi

Tanpa pengobatan maka varises akan berlanjut menyebabkan nyeri, bengkak pada tungkai, perubahan warna kulit, penebalan kulit dan jaringan bawah kulit, dan dermatitis. Pada keadaan lebih berat dapat terjadi luka pada pergelangan kaki, dapat timbul tromboflebitis.
Jika terjadi trombosis vena dalam dapat timbul kematian akibat bekuan darah yang lepas arteri pulmonalis di paru.


Sunday, August 31, 2014

Penyakit : Luka Diabetes, Borok Diabetes.



Penyakit : Luka Diabetes, borok diabetes.

Pengertian
 
Luka diabetes adalah suatu kondisi yang sering terjadi pada penderita diabetes. Kondisi ini disebabkan oleh suatu proses yang multifaktor dan seringkali membutuhkan amputasi yang mengakibatkan kecacatan pada pasien. Selain hal itu luka pada penderita diabetes sering susah sembuh dan menjadi luka kronik, ini akibat beberapa hal yang mengganggu penyembuhan luka.
Epidemiologi
Di Inggris data menunjukkan bahwa 5,3% penderita DM tipe 2 dan 7,4% DM tipe 1 sedang atau pernah mengalami episode luka pada kakinya.Total resiko penderita diabetes mengalami luka diabetes selama hidupnya sekitar 15%. Di USA Ramsey dkk menemukan selama 3 tahun penderita diabetes insiden luka adalah sekitar 5,8%.
Amputasi
Amputasi pada penderita diabetes secara umum dianggap sebagai suatu kegagalan, cara pandang ini berangkat dari pendapat bahwa amputasi adalah akibat penanganan yang tidak adekuat, atau prevalensi yang tinggi atau datang terlambat. Tetapi dengan cara pandang berbeda angka amputasi yang rendah bukan berarti pasien mendapat penanganan yang tepat, tetapi bisa saja berarti pasien tidak mendapat penanganan yang tepat seperti keterbatasan ruang perawatan, sehingga pasien tidak mendapat perawatan dan meninggal dirumah dengan luka yang tidak sembuh dan mengalami infeksi serta sepsis.
Amputasi dibagi dua yaitu amputasi mayor dan amputasi minor. Sebagian besar berpendapat amputasi mayor adalah amputasi diatas ankle dan dibawah ankle adalah amputasi minor. Tetapi masih belum ada keseragaman dalam hal ini.
Predisposisi dan faktor pencetus
Banyak faktor yang saling tumpang tindih sebagai penyebab dan faktor resiko terjadinya luka pada tungkai penderita diabetes. Faktor tersebut saling memperkuat misalnya seorang penderita diabetes dengan mata yang kabur mudah mengalami trauma tanpa disadarinya akibat neuropati pada tungkai. Trauma timbul pada kaki yang kering kulitnya retak retak sehingga memperberat trauma. Gangguan imunitas pada penderita diabetes menyebabkan penderita mudah mengalami infeksi pada tempat trauma dan susah sembuh. Diperberat oleh gangguan vaskularisasi sehingga proses penyembuhan menjadi terhambat.
Neuropati
Kerusakan saraf pada penderita diabetes terjadi akibat gangguan metabolik yang menyerang saraf dan diperberat oleh gangguan pada vasa nervorum. Kerusakan saraf terjadi pada sistem sensoris, sistem persarafan otot otot kecil di kaki dan persarafan halus yang mengotrol perdarahan di kaki.
Gangguan sistem sensoris mengakibatkan kehilangan sensasi pada tungkai yang terkena sehingga penderita tidak menyadari telah terjadi trauma. Neuropati motoris mengakibatkan gangguan pada pergerakan otot kaki dan merubah distribusi tekanan pada kaki saat bergerak. Pada tempat yang mengalami tekanan berulang akan timbul kalus. Pada kalus akan timbul retakan kulit yang mudah terinfeksi dan menjadi lokus minoris untuk infeksi.
Kaki charcot pada penderita diabetes timbul akibat dislokasi atau kolaps tulang atau sendi yang terjadi akibat trauma dan kadang kadang bisa terjadi spontan. Ini timbul akibat penderita mengalami osteopenia proses ini sembuh sendiri, tetapi kerusakan yang ditimbulkannya bisa menetap.
kalus pada kaki  penderita diabetes
 
Kalus dengan infeksi

Iskemia
Gangguan pembuluh darah pada penderita diabetes biasanya menyerang sistem pembuluh darah dibawah lutut dan tidak mengenai pembuluh darah dipedis dan proksimal. Tetapi iskemia bisa juga diakibatkan gangguan sistem mikrovaskular yang mengenai struktur pembuluh darah yaitu penebalan membrana basalis dan rapuhnya dinding kapiler serta trombosis dan gangguan fungsional yaitu neuropati vasomotor yang mengakibatkan menurunnya sistem mikrosirkulasi dan abnormal fungsi endotel.
Shunting arteriovenules mengakibatkan gangguan mikrosirkulasi dengan berkurangnya aliran darah ditempat yang membutuhkan. Sehingga bisa terjadi iskemia jaringan pada kondisi arteri dorsalis pedis dikaki teraba baik dan vena superfisial di pedis distensi.Hal ini juga mengakibatkan kulit yang terkena menjadi kering, merah tipis, kuku berubah bentuk, dan mudah terkena trauma misalnya pada pemasangan sepatu.
Kegagalan Penyembuhan Luka

Infeksi.
Infeksi berperan besar pada luka diabetes. Perannya lebih terutama kepada memperberat bukan kepada penyebab .Maksudnya seorang yang terkena trauma dengan kondisi kondisi yang mempermudah infeksi akan timbul infeksi dan akan memperberat kondisi pasien. Infeksi pada pasien bisa dipermukaan dan bisa sampai kedalam. Bisa mengenai jaringan lunak dan bisa sampai ketulang. Dalam kondisi berat infeksi dapat menjalar sistemik dan menimbulkan sepsis.
Kadang kadang susah mendeteksi infeksi dalam kondisi luka kronik dan mengalami iskemik juga. Cara yang terbaik untuk mengetahui infeksi pada keadaan itu dengan melihat adanya eksudat pada luka, nyeri terlokalisir. Bahaya infeksi ini adalah memicu timbulnya trombosis yang dapat mengakibatkan kematian pada kaki penderita
Untuk pasien dengan infeksi ini harus segera diberikan antibiotika yang secara empiris dapat menangani infeksi sambil menunggu hasil dari biakan dan sensitiviti test biakan. Biasanya pada biakan ditemui lebih dari satu organisma seperti gram positif, gram negatif, spesies aerob dan anaerob. Sampel biasanya diambil dengan mengambil eksudat, jaringan bagian dalam. Pada sampel dilakukan kultur aerob dan anaerob.
Iskemia
Iskemia berperan besar dalam penyembuhan luka, karena materi penyembuh luka dan sistem pertahanan tubuh termasuk obat obatan dibawa kelokasi luka melalui pembuluh darah. Sehingga hal kedua sesudah pemberian antibiotika yang harus dilakukan adalah pemeriksaan sistem vaskularisasi. Vaskularisasi yang jelek mengakibatkan luka tidak menyembuh bahkan bertambah berat.
Pada kondisi adanya iskemia , revaskularisasi harus dipertimbangkan segera. Revaskularisasi bisa dengan cara operasi maupun tindakan minimal invasif yaiyu angioplasti dengan balon maupun stenting.
Penatalaksanaan

Prinsip penatalaksanaan adalah :
·         Tangani infeksi sesegera mungkin
·         Revaskularisasi sesegera mungkin
·         Kurangi tekanan pada luka seminimal mungkin.
·         Perbaiki kondisi luka dengan melakukan perawatan luka.
Eradikasi Infeksi
Pengobatan diawali dengan pemberian obat obatan yang diduga dapat membunuh kuman yang ada dalam luka. Biasanya kombinasi aminopenisilin dan suatu penisilinase inhibitor  cukup memadai. Pilihan lain adalah quinolon dikombinasi dengan metronidazol atau klindamisin. Pilihan lain adalah imipenem dan gentamisin. Pada keadaan meticillin resisten S aureus dapat diberikan vancomycin, teicoplanin, rifampicin atai linezolid.
Pada keadaan infeksi osteomielitis dapat diberikan beta lactam dan quinolon.
Revaskularisasi
Untuk mengetahui kondisi pembuluh dapat dilakukan pemeriksaan penyaring dengan pemeriksaan Ankle Brachial Index. Index dibawah 0.8 sdh merupakan suatu tanda terdapatnya kelainan vaskular.
Untuk mengetahui lebih detail kelainan vaskular dapat dilakukan pemeriksaan ultrasonografi duplex. Dari Ultrasonografi duplex dapat diketahui anatomi pembuluh darah, adanya kalsifikasi, dan flow pada pemeriksaan spektral. Dengan USG dapat lebih detail diketahui kondisi pembuluh darahnya. Tetapi USG harus dikerjakan oleh orang yang trampil.
Jika pada pemeriksaan USG ditemui kelainan dapat dilakukan pemeriksaan Multi Slice CT Angiografi. Dengan MSCT Angiografi dapat diketahui anatomi pembuluh darah yang mengalami kelainan, sekaligus dapat direncanakan intervensi apa yang akan dilakukan pada penderita.
Saat ini intervensi pada penderita luka diabetes sudah jauh berkembang dengan pengenalan konsep angiosome. Revaskularisasi ditujukan spesifik pada pembuluh darah yang mendarahi area yang mengalami iskemik.
Mengurang Tekanan
Tempat yang terkena harus dihindari penekanan seminimal mungkin. Hal ini dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan dokter rehabilitasi medik
Manajemen Luka
Penaganan luka memegang peranan penting dalam penyembuhan luka. Tujuan debridement adalah membuang seluruh jaringan yang mati dan mengubah kondisi luka dari kronik menjadi akut.
Ada berbagai macam cara penanganan luka baik dengan cara operasi, enzimatik, modern woud dressing, larva, dan yang terbaru adalah dengan menggunakan growth factor.
Kesimpulan

Penanganan luka diabetes adalah suatu penanganan yang komplek. Tidak bisa penanganan hanya dari sisi kontrol metabolik saja karena penyakit ini bersifat sistemik.
Pada kondisi sudah timbul luka maka penanganannya akan lebih rumit memerlukan penanganan dari berbagai bidang ilmu seperti mikrobiologi klinik, dokter spesialis bedah, dokter rehabilitasi medik. Doketr spesialis bedah vaskular memegang peranan sentral dalam hal ini dalam penatalaksanaan luka dan memperbaiki kondisi pembuluh darah penderita

kematian kaki akibat diabetes
 



amputasi akibat pembuluh darah kaki jelek

Thursday, August 28, 2014

Penyakit: Luka Diabetes, Pengobatan tepat dapat mencegah amputasi



Luka Diabetes : Pengobatan yang tepat dapat mencegah amputasi

Pengertian
Kaki diabetes adalah suatu kondisi yang bervariasi mulai dari kulit kaki yang kering dan kasar sampai luka di kaki yang tak bisa sembuh. Ini terjadi pada satu dari empat penderita diabetes selama hidupnya.
Diabetes sendiri mengakibatkan kerusakan sistemik pada organ dan fungsi tubuh seperti mata, jantung , otak , ginjal, hati, sistem vaskularisasi, sistem kekebalan tubuh. Kombinasi semua faktor diatas mengakibatkan penderita kaki diabetes rentan terhadap infeksi pada tungkainya dan susah sembuh yang  akhirnya dapat mengakibatkan amputasi pada tungkai penderita.
Sering penderita tidak menyadari kondisi yang dialaminya sehingga penderita datang berobat dalam kondisi yang sudah berat. Sebagai contoh penderita tidak menyadari bahwa kakinya sudah baal sehingga rentan terhadap trauma, dan sesudah terkena trauma penderita tidak segera menyadarinya dan pada saat mencari pengobatan kondisi tungkai penderita sudah jelek.
Jumlah penderita yang menjalani amputasi pada kaki diabetes jauh  lebih banyak jika  dibandingkan dengan akibat trauma dan keganasan. Amputasi sendiri akan menurunkan kualitas hidup penderita dan mobilitas penderita.
Ulkus Diabet yang sudah di lakukan penutupan dengan skin graft
Langkah Pencegahan Amputasi
Sebagian besar amputasi termasuk di RSCM diakibatkan oleh luka diabetes, mengalahkan amputasi yang diakibatkan oleh trauma maupun keganasan.
Amputasi sebagian besar didahului oleh luka kecil . Luka menjadi tempat masuk infeksi dan menjalar keatas sehingga mengakibatkan infeksi yang mengancam kehidupan penderita sehingga tungkai harus diamputasi. Langkah langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi adalah sebagai berikut:
1.Kontrol Infeksi
Infeksi pada penderita diabetes yang didahului oleh trauma dapat bertambah buruk akibat kombinasi berbagai faktor seperti penurunan fungsi sistem imunitas sehingga infeksi akan menyebar cepat dan menjadi berat.
Infeksi pada penderita diabetes dapat diklasifikasikan atas: ringan , sedang dan berat. Infeksi ringan tidak mengancam tungkai dan kehidupan sedangkan sedang maupun berat akanmengakibatkan tungkai terancam amputasi dan bahkan mengancam kehidupan.
Infeksi ringan adalah infeksi yang kurang dari 2 cm lebarnya, tidak menyebar kedalam dan tak ada tanda tanda sistemik infeksi. Biasanya disebabkan oleh kuman gram positif. Infeksi sedang adalah infeksi yang lebarnya lebih 2 cm dan dikelilingi oleh selulitis dan dapat menyebar melalui tendon dan fasia. Dapat timbul osteomielitis tetapi tidak disertai tanda tanda sistemik infeksi. Infeksi yang berat mempunyai karakter yang sama dengan infeksi sedang tetapi disertai oleh tanda tanda infeksi sistemik. Infeksi sedang dan berat biasanya diakibatkan oleh kuman campuran. Tetapi pada semua kondisi biasanya yang sangat dominan adalah kuman gram positif dan mesti dipertimbangkan dalam pengobatan.
Pada semua kondisi infeksi mesti dipertimbangkan terjadinya resistensi kuman terutama methicillin resisten staphylococcus aureus (MRSA). Pada kondisi ini dipertimbangkan pemberian antibiotika yang secara empirik dapat digunakan untuk melawan MRSA sampai keluar hasil kultur dan sensitifiti test.
2.Kontrol Vaskular
Langkah berikut sesudah mengatasi infeksi adalah memastikan bahwa perfusi ketungkai baik. Salah satu metode untuk memeriksanya adalah dengan memeriksa ankle brachial index (ABI). Tetapi sering ABI tidakakurat dalam kondisi terjadi atherosklerosis pembuluh darah. Dalam kondisi ini  diperiksa toe brachial index (TBI). TBI lebih akurat dalam mengukur tekanan pembuluh darah pada bagian ujung karena pembuluh darah kecil relatif lebih bebas dari atherosklerosis.
Metode lain untuk mengukur perfusi kedistal adalah dengan memeriksa trans cutaneus pressure of oxygen ( TcPO2).
Saat in metode yang sangat bagus untuk memeriksa sistem vaskularisasi adalah dengan menggunakan ultrasonografi.

Vaskular yang baik sangat berperan dalam mencegah terjadinya infeksi melalui beberapa faktor:
·         Pembuluh darah yang baik dapat berfungsi menghantarkan nutrisi yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka.
·         Pembuluh darah yang baik berfungsi menghantarkan obat obatan dan sistem kekebalan tubuh ketempat luka terjadi.
3.Mengurang tekanan.
Mengurang tekanan sangat berguna dalam menghindari amputasi pada penderita luka diabetik. Hal ini akibat penderita sering sudah mengalami baal atau kebas pada kaki sehingga penderita tidak menyadari trauma pada kaki akibat misalnya sepatu yang sempit. Mengurang bahkan menghilangkan tekanan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menggunakan kursi roda ataupun tongkat atau menggunakan sepatu khusus.
Cara lain mengurangi tekanan adalah dengan melakukan pemanjangan tendon dengan cara operasi , seperti pemanjangan tendo achiles, sehingga titik tumpu yang berada didaerah kepala metarsal dapat pindah kembali ke tempat semula.
4. Debridemen.
Debridemen adalah membuang semua jaringan yang mati sehingga luka kembali segar. Tidakan ini diperlukan karena pada tempat yang mati akan menjadi tempat bersarangnya kuman akibat tempat yang mati tidak dapat dicapai oleh pembuluh darah.
Peranan lain dari debridemen adalah memulai kembali proses penyembuhan luka yang terhenti  pada luka kronik sehingga luka kronik akan berubah menjadi luka akut. Debridemen dilakukan berkali kali sehingga jaringan kembali sehat.
Peranan rekonstruksi tidak dipertimbangkan dalam melakukan debridemen. Debridemen dilakukan sesuai dengan pertimbangan klinis. Rekonstruksi dipertimbangkan sesudah luka menjadi jaringan yang sehat kembali. Rekonstruksi akan mempertimbangkan jaringan sehat yang tersisa.
5.Merangsang timbulnya jaringan granulasi.
Cara yang tepat untuk merangsang timbulnya jaringan granulasi adalah dengan menerapkan perawatan luka dengan menggunakan negative pressure wound treatment (NPWT).
Penerapan NPWT diteruskan sampai timbul granulasi 100% dan dilanjutkan kemudian dengan melakukan skin graft.
Contoh NPWT

6. Penutupan luka.
Sesudah luka menjadi jaringan granulasi, maka dipertimbangkan penutupan luka. Semakin lama membiarkan luka terbuka, akan semakin besar resiko penderita terkena infeksi.
Bermacam macam cara menutup luka. Cara yang sederhana adalah dengan menggunakan split thickness skin graft (STSG). Denagn cara ini angka keberhasilan tinggi, karena STSG tidak memerlukan sumber perdarahan yang banyak untuk hidup. Cara lain yang lebih rumit adalah dengan menyiapkan random flap, pedikel flap ataupun free flap.

luka diabet sebelum debridemen
luka diabet sebelum debridemen
luka post debridemen

luka sesudah STSG

Luka sesudah STSG